Tamansiswa & Warisan Perjuangan Ki Hajar Dewantara


JAKARTA - Membicarakan Pahlawan Nasional Ki Hajar Dewantara tidak lengkap jika tidak menyebut Taman Siswa. Perguruan ini mengusung konsep pendidikan dengan rasa nasionalisme untuk seluruh anak bangsa Indonesia. 

Taman Siswa hanyalah satu dari sekian banyak warisan perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Berikut cerita tentang Taman Siswa dan warisan perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan nasional, seperti dirangkum Kampus Okezone, Minggu (17/8/2014). 

Taman Siswa, Oleh-Oleh dari Belanda  


Pada 1913, Ki Hajar Dewantara beserta Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Belanda karena memprotes rencana perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dan Prancis di negara jajahan mereka. 

Meski harus hidup terasing dari Tanah Air, jiwa pejuang Ki Hajar Dewantara tidak redup. Dia aktif dalam organisasi pelajar asal Indonesia di Belanda. Di saat yang sama, ide-ide tokoh pendidikan barat menjadi fondasi Ki Hadjar dalam merintis cita-cita memajukan pendidikan di Indonesia untuk para pribumi. 

Ki Hadjar memanfaatkan kesempatan pengasingan di Belanda untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran hingga meraih Europeesche Akte. Ki Hajar kembali ke Indonesia pada 1918 dan 

Dia kemudian bergabung dengan sekolah binaan saudaranya. Pengalaman selama di Belanda digunakan untuk mengembangkan kembangkan konsep belajar di sekolah tersebut. 

Pada 3 Juli 1922, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa  atau perguruan Taman Siswa.  Lembaga ini bertujuan memberikan kesempatan dan hak pendidikan yang sama bagi para pribumi jelata Indonesia seperti yang dimiliki para priyayi atau orang-orang Belanda. 

Taman Siswa menanamkan rasa kebangsaan pada anak didiknya. Metode pendidikannya merupakan gabungan perspektif Barat dengan budaya nasional. Meski demikian, Taman Siswa tidak mengajarkan kurikulum pemerintah Hindia Belanda. 

Karena mengusung nasionalisme Indonesia itulah, pemerintah kolonial Belanda berupaya merintangi Taman Siswa dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Namun, Ki Hajar Dewantara gigih memperjuangkan haknya hingga ordonansi itu dicabut. 

Selain mengembangkan Taman Siswa, Ki Hajar tetap menulis. Tema tulisannya kini tidak lagi politik, melainkan bernuansa pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisan-tulisan itu menjadi media Ki Hajar dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.  

Ajaran Ki Hadjar Dewantara 

Peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mewariskan tiga ajaran yang hingga kini masih terkenal, "Ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani." Konsep ini bermakna, "Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan." Konsep tersebut masih relevan diterapkan dalam dunia pendidikan nasional dewasa ini. 

Selain itu, ada juga konsep belajar tiga dinding. Konsep ini mengacu pada bentuk ruang sekolah yang rata-memiliki empat dinding. Ki Hajar menyarankan, ruang kelas hanya dibangun dengan tiga sisi dinding; sedangkan satu sisi lainnya terbuka. Filosofi ini mencerminkan, seharusnya tidak ada batas atau jarak antara dunia pendidikan di dalam kelas dengan realitas di luarnya. 

Dengan kata lain, sekolah sebaiknya tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga kemampuan lainnya. Sehingga, anak tidak hanya pandai secara akademik, tetapi juga mampu menerapkan ilmunya tersebut. 

Bentuk konsep tiga dinding ini bisa diterjemahkan dengan berbagai kegiatan tambahan di luar sekolah seperti outbond dan karya wisata ke berbagai tempat. Tentu saja, kegiatan-kegiatan tambahan itu dikemas dengan nilai-nilai edukatif. 

Pendidikan memanusiakan manusia

Menurut kacamata Ki Hajar Dewantara, "pengajaran" bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah seperti kemiskinan dan kebodohan. Sebaliknya, "pendidikan" memerdekakan manusia dari aspek hidup batin. Melalui pendidikan, manusia dididik memiliki otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat serta mentalitas demokratik.

Pendidikan juga harus dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan tentang konsep mendidik itu sendiri. Dalam arti yang sesungguhnya, pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia (humanisasi), misalnya melalui konsep "penguasaan diri".  Ki Hajar meyakini, jika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, maka mereka juga akan mampu menentukan sikapnya sebagai pribadi merdeka, mandiri dan dewasa

Sumber : Disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tuliskan nama dan komentar anda....
(Bagi yang tidak memiliki akun pada pilihan dibawah, berikan komentar sebagai Anonymous)
1. Komentar Yang Sesuai Dengan Isi Konten
2. Komentar Tidak Bernada Asusila
3. Komentar Yang Bersifat Membangun

Designed By Perguruan Tamansiswa Padang